Berat mata dalam peraduan senja ketika menyaksikan percumbuan mega,
dalam hening ini masih teringat akan senyawa dan molekul-molekul hawa sejuknya rintik hujan,
engkau yang terduduk dengan segala kenestapaanmu seolah ini lah akhir dari hidupmu,
"adakah tuhan itu'? dimana letakNya?" engkau bertanya kepadaku dengan tatapan sayu mu,
masihkah kau ingat kala kita duduk santai dengan secangkir kopi kala itu?
dengan menyeruput nikmatnya kebusukan hidup ini,
"aku pun begitu, ingatkah engkau ketika adzan di mesjid dan detingan lonceng gereja yang memanggil manusia tuk bersimpuh dan memohon ampunan?"
namun aku masih teringat ketika engkau berucap dan menjerit dalam kesakitanmu,
ini lah hidup kawan! kata mu.
namun aku membantah dengan irama-irama dan nyanyian-nyanyian sumbang ku mengenai rahmat Illahi,
dan malam pun beranjak dalam peraduannya, kita pun terlelap dan tertidur dalam keadaan bugil keimanan,
dan aku pun masih teringat ketika engkau berkata "tetaplah kau pejamkan matamu hingga fajar tiba, ketika itu kau akan melihat kehidupan yang telah berada dalam "titik"nya.!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar