Terkadang kita manusia selalu diberi cobaan, baik itu musibah maupun kesenangan, tetapi realita sekarang ini kebanyakan dari kita tidak menyadari itu semua, kita hanya merasa Allah SWT selalu memberikan kita cobaan dari musibah saja, padahal bukan hanya musibah dan kemalangan saja yang berarti cobaan dari Tuhan, kesenangan pun termasuk cobaan bagi kita ummat manusia yang apabila kita mampu berfikir positif dan jiwa kita tetap berpegang teguh pada Allah SWT, jiwa kita sebenarnya kosong, oleh karena itu perlu diisi dengan ketakwaan terhadap kebesaran Allah SWT.
Banyak cara untuk mengisi jiwa kita yang kosong tersebut dan bahkan sangat mudah, tetapi kita saja sebagai insani yang malas untuk mengisinya, mulai dari Shalat lima waktu, padahal ini adalah tiang agama, ibaratnya fondasi sebuah rumah, apabila fondasi itu lemah, maka rumah tersebut pun tidak kuat, atau pun pada tiang-tiang bangunan, ketika tiang tersebut tidak kokoh, maka bangunan tersebut pun rentan hancur, padahal lima atau sepuluh menit saja kita menghadap sang Rabbul Izzati, tetapi mengapa kita malas?? kita sering curhat kepada teman, rekan kerja, bahkan pacar kita tentang problem kita sehari-hari, tetapi mengapa kita malas untuk curhat kepada Sang Khalik, sesungguhnya Allah SWT maha mendengar,
kedua yaitu sedekah, kita yang mempunyai harta berlimpah dan hidup dengan kemewahan, tetapi ketika kita lewat dipersimpangan dan menemui fakir miskin, anak yatim yang dengan betul-betul serba kekurangan mengharapkan sedekah dari kit, kita tidak mampu memberikannya, sebenarnya bukan tidak mampu, dalam dompet kita dipenuhi dengan uang puluhan bahkan ratusan ribu, tetapi mengapa selalu kita mengatakan "maaf"?? padahal belum tentu fakir miskin atau anak yatim tersebut meminta sumbangan sekitar lima ratus ribu, padaha ketika kita hanya memberikan lima ratus rupiah atau seribu rupiah saja mereka sudah bersyukur dan bahkan mampu mendoakan kita.
dan masih banyak lagi cara-cara mudah untuk mengisi jiwa kita.
Dan kawan, hidup kita ini adalah sunnatullah, tetap berfikir positif dengan hidup kita dan tetap kan keimanan kita terhadap Allah SWT, baik itu cobaan yang bersifat musibah atau pun kesenangan.
Sesungguhnya, manusia yang merugi adalah manusia yang selalu berpikir negatif dan pesimis terhadap hidup.
Banyak cara untuk mengisi jiwa kita yang kosong tersebut dan bahkan sangat mudah, tetapi kita saja sebagai insani yang malas untuk mengisinya, mulai dari Shalat lima waktu, padahal ini adalah tiang agama, ibaratnya fondasi sebuah rumah, apabila fondasi itu lemah, maka rumah tersebut pun tidak kuat, atau pun pada tiang-tiang bangunan, ketika tiang tersebut tidak kokoh, maka bangunan tersebut pun rentan hancur, padahal lima atau sepuluh menit saja kita menghadap sang Rabbul Izzati, tetapi mengapa kita malas?? kita sering curhat kepada teman, rekan kerja, bahkan pacar kita tentang problem kita sehari-hari, tetapi mengapa kita malas untuk curhat kepada Sang Khalik, sesungguhnya Allah SWT maha mendengar,
kedua yaitu sedekah, kita yang mempunyai harta berlimpah dan hidup dengan kemewahan, tetapi ketika kita lewat dipersimpangan dan menemui fakir miskin, anak yatim yang dengan betul-betul serba kekurangan mengharapkan sedekah dari kit, kita tidak mampu memberikannya, sebenarnya bukan tidak mampu, dalam dompet kita dipenuhi dengan uang puluhan bahkan ratusan ribu, tetapi mengapa selalu kita mengatakan "maaf"?? padahal belum tentu fakir miskin atau anak yatim tersebut meminta sumbangan sekitar lima ratus ribu, padaha ketika kita hanya memberikan lima ratus rupiah atau seribu rupiah saja mereka sudah bersyukur dan bahkan mampu mendoakan kita.
dan masih banyak lagi cara-cara mudah untuk mengisi jiwa kita.
Dan kawan, hidup kita ini adalah sunnatullah, tetap berfikir positif dengan hidup kita dan tetap kan keimanan kita terhadap Allah SWT, baik itu cobaan yang bersifat musibah atau pun kesenangan.
Sesungguhnya, manusia yang merugi adalah manusia yang selalu berpikir negatif dan pesimis terhadap hidup.