Fazilah, seorang gadis berumur 25 tahun berkulit putih bersih dan berambut hitam panjang berlari ke sana kemari dalam sebuah padang datar yang terhampar luas. Seperti penuh pengharapan dan kebingungan, sang gadis pun terduduk lesu dan letih.
"Duhai kekasih, dimana keberadaanMu ketika aku memerlukanMu?" Dengan siulan burung gereja dan angin yang sepoi-sepoi di tengah teriknya mentari, oh kekasih, dimana aku bisa menemukanMu ketika aku mengalami kegundahan?" Penuh pengharapan dan keputus asaan, Fazilah yang merupakan seorang gadis yang kesehariannya menggembalakan hewan ternak dengan penuh pengharapan dan kepalsuan merintih.
Dengan berderai air mata, Fazilah berujar kepada seekor burung gereja yang bertengger di bahunya "Engkau makhluk yang beruntung, mampu terbang kesana kemari melihat dunia luas, sedangkan aku hanya mampu meratapi hidupku, engkau makhluk yang beruntung memiliki seorang kekasih yang terkasih, sedangkan aku hanya sebatang kara, hidup dan menemani hewan-hewan gembalaanku. Sungguh durjana kehidupan ini katanya.
Di bawah sebatang pohon rindang, fazilah merebahkan tubuhnya, beristirahat sejenak sambil tetap meneteskan air mata pengharapan.
Jelas lambat laun Fazilah terlelap di bawah pohon rindang tempat dirinya berteduh.
Tanpa dirinya sadari dalam lamunannya yang sejenak, sekawanan semut hitam yang sedang bergotong royong melintas di bawah kaki Fazilah, seekor semut yang besar menghentikan kawanannya, mungkin ini lah pemimpin dari kawanan semut tersebut. Sembari berkata kepada kawanannya "Lihat kawan, wanita ini anggun sekali, sungguh beruntung dunia ini masih memiliki bidadari", tak berapa lama kemudian seekor semut yang berbadan kecil menyahut dan berkata "Sungguh engkau telah keliru yang mengatakan hal tersebut, coba engkau perhatikan dari setiap lekuk wajahnya, terlihat jelas akan wajah gelisah dan ketidakpuasan, coba kau perhatikan kembali wajahnya, dari rona wajahnya jelas terlihat akan kekosongan dan kehampaan, dimana dirinya sungguh jauh dari sinar kemenangan, hal tersebut dirinya menjadi seorang hamba yang telah kehilangan dan tak dihiraukan kekasihnya".
Maksud mengatakan hal demikian?
"Ya seorang kekasih yang telah menjauh darinya, kekasih suci ummat manusia yang dengan senantiasa mengawasi lekuk hidup makhluk, dia lah Sang Rabbul Izzati, Allah SWT!"
"Atas dasar apa engkau mengatakan bahwa Allah telah berpaling dari paras manis wanita ini?"
Dengan penuh keheranan, pemimpin semut bertanya kepada semut yang lebih kecil darinya.
"Tuan ku, engkau tidak mengetahuinya, Wanita ini telah merampas hak tetangganya, wanita ini telah melakukan hal yang haram demi kesenangan dan keuntungannya, jika aku mengatakan seperti itu, ini semua telah menjadi sanderaan jiwa-jiwa yang kelam"
"Itu benar!!" sahut seekor burung gereja yang duduk di atas pohon ketika mendengar seekor kawanan semut sedang berdiskusi.
"Itu benar, tanyakan kepada hewan-hewan ternak peliharaannya, apa yang telah di lakukan gadis ini". Tapi sungguh, demi matahari pun, cahayanya enggan menyinari tubuh kelam yang ditutupi oleh sekumpulan sutera pada wanita ini."
"Wahai kawan-kawan makhluk, sungguh aku telah terpana atas karunia Illahi, sungguh aku telah tertipu atas mata ku sendiri" Sebut pemimpin semut kepada rekan-rekannya sembari melanjutkan perjalanan mereka dan menjauhi Fazilah yang sedang tertidur.
Tidak berapa lama, Fazilah terbangun, dalam renungannya dan kembali menangis dan berteriak.
"Wahai kekasih! dimana engkau ketika aku sedang bimbang, perlihatkan wajahmu pada ku, sungguh aku rindu akan dirimu, apakah engkau tak ingin melihatku?"
"Wahai kekasih yang terkasih, malu kah Engkau menatapku, sungguh aku telah berdosa kepada Mu, sungguh aku telag hina, wahai kekasih, aku ingin bertemu denganMu, terkutuk lah aku!!"
Selang berapa lama, petir menyambar tubuh Fazilah, seketika itu pun Fazilah terdampar ibarat kapas yang tertiup angin, tubuhnya tergeletak di padang rumput yang luas.
"Sungguh manusia hanya mampu menyesal ketika penyesalan telah datang" berkata burung gereja yang menyaksikan Fazilah tersambar petir dan terbang ke angkasa dan berkata.
"Sungguh aku tak mengerti akan manusia!!"