Selasa, 14 Februari 2012

JAINISME

Jainisme merupakan agama para liberator damai, yang berakar pada falsafah-falasah terdahulu pada zaman purba. Agama tua yang berasal dari India ini kaya dengan azas-azas perdamaian dan toleransi yang sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini.
Nama agama ini berasal dari bahasa sansekerta jina yang berarti "penakluk". Sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah berhasil menaklukan hawa nafsu keduniawian dan telah dibebaskan dari siklus kelahiran ulang. 
Agama Jaina itu dibangun oleh Nataputta Vardhamana, hidup pada 559-527 sM yang beroleh panggilan Mahavira yang berarti pahlawan besar.
Agama Jaina lahir lebih dahulu daripada Agama Buddha. Agama Buddha punya pengikut lebih luas di luar India, namun agama Jaina terbatas hanya di India saja. Kedua agama tersebut merupakan reaksi terhadap perikeadaan di dalam Agama Hindu mengenai perkembangan ajarannya pada masa lampau.
Jainisme merupakan satu rangkaian azas-azas yang diajarkan oleh 24 orang jina atau Tirthankara yang telah mencapai puncak dari hierarki selestialnya. Tetapi mereka tidak dipuja atau pun disembah, karena mereka tidak boleh melakukan intervensi atas nama para pengikut mereka.
Jainisme bahkan menolak autokrasi dan campur tangan Supreme being atau Yang Maha Kuasa. Jainisme percaya bahwa alam semesta tidak ada awalnya dan tidak ada pula akhirnya, dan hal itu terus berlanjut.
Bagi para penganut agama jain, jalan menuju tujuan yang hendak mereka capai adalah melalui tiga tahap permata spritual, yaitu :
1. Pengetahuan yang benar
2. Jalan yang benar
3. Perbuatan yang benar
Dewasa ini ada lebih dari 8 juta pengikut agama ini. Mereka terutama ditemukan di India. Secara sosial, biasanya para penganut Jainisme termasuk golongan menengah ke atas.
Mahatma Gandhi (1869-1948), merupakan spritual keagamaan india, politikus dan tokoh gerakan kemerdekaan India, beliau merupakan sosok yang dipengaruhi oleh aliran Jainisme dalam setiap pergerakan dan pola pikirnya.
Pertanyaannya, apakah falsafah-falsafah Jainisme yang menerapkan tiga tahap yang di sebut permata spritual dapat diterapkan di Indonesia khususnya di Aceh yang mayoritas 99% rakyat dan masyarakatnya beragama islam dan berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Al-hadist? Tapi jika ditinjau dari keadaan sosial dan politik di Indonesia dan khususnya di Aceh, bisa saja falsafah dari Aliran Jainisme dapat dipelajari, asal tidak sesat dalam artian agama, karena dalam Islam pun dikenal dengan wajib mencari Ilmu dan memiliki Ilmu demi kemaslahatan Ummat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar