Lepuh keringat mengucur dari balik pori-pori, menapalkan telapak kaki dalam jejak langkah di atas aspal yang berbias dan mengeluarkan uap-uap panasnya. Siang itu tepat di depan sebuah kios kaki lima berdiri si Ahmad, bocah kecil berusia antara 7 hingga 9 tahun yang mengharapkan belas kasih orang yang berlalu lalang menunggu hingga datangnya seseorang yang ingin membersihkan sepatunya, ya si Ahmad bocah kecil yang bekerja untuk membantu orang tuanya dengan cara menjadi tukang semir keliling, sembari berdoa kepada Ilahi "Tuhan ku yang maha pengasih dan pemberi nikmat, hari ini hamba hanya mendapat kan 2 lembar lembaran 5 ribu, semoga ini menjadi hal yang berkat bagi orang tua hamba yang sudah senja".
Tidak jauh dari tempat si Ahmad berdiri, ada toko penjualan barang-barang elektronik, terpampang di depannya jelas dan besar nama toko tersebut pada sebuah pamflet dengan nama MEGAH ELEKTRONIK, ya toko tersebut merupakan toko yang megah dengan omset pemasukan yang megah juga, sibuk orang keluar masuk toko tersebut "entah membeli atau hanya melihat-lihat barang elektronik yang tersedia", hanya beberapa detik seorang perempuan tua yang menggedong anaknya yang masih balita berdiri di depan toko tersebut, dengan hanya beralaskan kulit kakinya "yang sudah mengeras karena berjalan tanpa adanya alas kaki" sang perempuan tua tersebut menengadahkan tangan di depan orang-orang yang keluar masuk toko elektronik tersebut, entah karena mereka tidak atau berpura-pura tidak melihat, perempuan tua tersebut di acuh kan, lebih "melegakan" dan "bermurah hati" mengusir perempuan tua tersebut entah karena merasa kasihan karena perempuan tersebut hanya berdiri tanpa ada yang menghiraukan, dengan langkah berat dan letih, perempuan tua tersebut berjalan menjauh dari toko tersebut sembari berdoa "Ya Tuhan hamba, engkau maha mendengar doa hamba-hambamu yang susah", seketika itu pula perempuan tua tersebut menghilang dari balik lorong-lorong yang entah kemana tembusnya.
Hanya sekejap, riuh rendah terjadi di perempatan jalan tersebut, dimana berhentinya sebuah mobiil sedan merah bermerk pabrikan cukup ternama dengan bernomor polisi yang tertulis pada plat merah, sejenak keluar dari dalam mobil sedan tersebut lelaki yang tidak terlalu tua, berjas kemeja dan sepatu kulit yang berkilat "seperti gambaran pejabat dan petinggi-petinggi negara lainnya", melangkah dengan pasti dan di dampingi pengawal-pengawal yang berbadan tegap, tidak berapa lama seorang bocah kecil lainnya yang berusia kira-kira 6 tahun dengan baju yang lusuh dan dan bercelana pendek menghampiri lelaki tersebut, menyentuh dengan lembut lelaki tersebut, namun pengawal-pengawal lelaki tersebut langsung bergerak cepat dengan menyingkirkan bocah kecil tersebut, dengan isak-isak tangis bocah tersebut dipaksa menjauh, menangis sedu sedan dengan menatap kosong ke arah lelaki tersebut, tidak berapa lama seorang pemuda yang kelihatan seorang mahasiswa dari Universitas ternama menghampiri bocah tersebut dan berkata "Ini lah dunia kita dik, yang berkuasa tetap berkuasa, dan kita hanya seperti ini, berdoa, mengharap belas kasih hanya untuk menopang kehidupan" pemuda dan bocah tersebut berjalan bergandengan tangan sambil menghilang di antara keramaian.
Entah cerita apa lagi esok yang akan mewarnai setiap derita dan kisah dari yang tertindas.
Tidak jauh dari tempat si Ahmad berdiri, ada toko penjualan barang-barang elektronik, terpampang di depannya jelas dan besar nama toko tersebut pada sebuah pamflet dengan nama MEGAH ELEKTRONIK, ya toko tersebut merupakan toko yang megah dengan omset pemasukan yang megah juga, sibuk orang keluar masuk toko tersebut "entah membeli atau hanya melihat-lihat barang elektronik yang tersedia", hanya beberapa detik seorang perempuan tua yang menggedong anaknya yang masih balita berdiri di depan toko tersebut, dengan hanya beralaskan kulit kakinya "yang sudah mengeras karena berjalan tanpa adanya alas kaki" sang perempuan tua tersebut menengadahkan tangan di depan orang-orang yang keluar masuk toko elektronik tersebut, entah karena mereka tidak atau berpura-pura tidak melihat, perempuan tua tersebut di acuh kan, lebih "melegakan" dan "bermurah hati" mengusir perempuan tua tersebut entah karena merasa kasihan karena perempuan tersebut hanya berdiri tanpa ada yang menghiraukan, dengan langkah berat dan letih, perempuan tua tersebut berjalan menjauh dari toko tersebut sembari berdoa "Ya Tuhan hamba, engkau maha mendengar doa hamba-hambamu yang susah", seketika itu pula perempuan tua tersebut menghilang dari balik lorong-lorong yang entah kemana tembusnya.
Hanya sekejap, riuh rendah terjadi di perempatan jalan tersebut, dimana berhentinya sebuah mobiil sedan merah bermerk pabrikan cukup ternama dengan bernomor polisi yang tertulis pada plat merah, sejenak keluar dari dalam mobil sedan tersebut lelaki yang tidak terlalu tua, berjas kemeja dan sepatu kulit yang berkilat "seperti gambaran pejabat dan petinggi-petinggi negara lainnya", melangkah dengan pasti dan di dampingi pengawal-pengawal yang berbadan tegap, tidak berapa lama seorang bocah kecil lainnya yang berusia kira-kira 6 tahun dengan baju yang lusuh dan dan bercelana pendek menghampiri lelaki tersebut, menyentuh dengan lembut lelaki tersebut, namun pengawal-pengawal lelaki tersebut langsung bergerak cepat dengan menyingkirkan bocah kecil tersebut, dengan isak-isak tangis bocah tersebut dipaksa menjauh, menangis sedu sedan dengan menatap kosong ke arah lelaki tersebut, tidak berapa lama seorang pemuda yang kelihatan seorang mahasiswa dari Universitas ternama menghampiri bocah tersebut dan berkata "Ini lah dunia kita dik, yang berkuasa tetap berkuasa, dan kita hanya seperti ini, berdoa, mengharap belas kasih hanya untuk menopang kehidupan" pemuda dan bocah tersebut berjalan bergandengan tangan sambil menghilang di antara keramaian.
Entah cerita apa lagi esok yang akan mewarnai setiap derita dan kisah dari yang tertindas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar